Sebuah Cerita Panjang tentang Jerawat (Ep. 1)

Ada yang bilang hidup itu berputar seperti roda. Kadang kita di atas, setelah itu di bawah. Kadang kita bahagia, setelah itu sedih. Kadang dompet tebal, kadang bokek tak keruan. Kadang wajah mulus bagai peri, kadang jerawat datang tak kenal ampun.

Dan inilah kisah saya melawan jerawat. Kisah ini akan dibagi menjadi beberapa bagian.

  1. Sebelum 2012 (Fase Awal – Berobat ke Dr. Spkk di Jaksel)

Sewaktu SMP, kebanyakan teman saya mulai berjerawat. Alhamdulillah muka saya mulus-mulus aja. Mereka bilang, “tunggu deh pas SMA nanti, lo pasti jerawatan, Nur!” Saya waspada dan menunggu datangnya mereka.

Saat masuk STM, kebetulan saya sempat masuk pasukan pengibar bendera. Karena khawatir wajah saya gosong akibat panas-panasan, ibu saya menyuruh saya rajin cuci muka dan pakai pelembab wajah. Saat itulah pertama kali saya pakai skin care. Ponds pink untuk facial foam dan moisturizernya. Saya juga pakai bedak bayi tiap berangkat ke sekolah. Tapi sampai dengan usia 20 tahun, muka saya masih tanpa jerawat.

Musibah itu baru datang di awal tahun 2011. Keluarga kami pindah ke Bogor. Namun karena saya bekerja di Jakarta, akhirnya saya harus menjalani kehidupan yang agak-agak menyedihkan: jadi anak kos. Saya harus terpisah jarak dengan ibu saya yang tak pernah absen ngingetin saya buat rajin mandi, keramas dan merawat badan. Saya mulai buluk tak terurus. Mandi cuma satu hari sekali, keramas cuma saat weekend, dan sering lupa cuci muka saat pulang dari kantor.

Sekitar bulan Maret 2011, satu persatu jerawat muncul. Awalnya hanya setitik menjelang haid. Tapi lama-kelamaan muncul berkelompok di pipi, dagu dan jidat. Saya yang tadinya cuek mulai panik dan memutuskan untuk mengganti Ponds pink saya menjadi Ponds hijau yang konon untuk membasmi jerawat. Saya juga berusaha untuk tidak absen membersihkan muka tiap pulang bekerja. Sebulan ditunggu, tidak ada progres. Saya mencoba sabun JF Sulfur, lalu Clean & Clear, lalu balik lagi ke Ponds hijau. Tapi bukannya membaik, gerakan coba-coba yang membabi buta itu malah membuat keadaan makin parah. Dan sewaktu saya ke Bogor, ibu saya langsung menghukum saya dengan nyuruh pergi ke dokter spkk.

Setelah browsing sana-sini, akhirnya saya memutuskan untuk konsul ke seorang dokter di daerah blok m, jaksel. Jujur sekarang saya udah lupa siapa namanya. hehehehe. Waktu itu alasannya karena cukup banyak success storynya dan harganya yang masih dapat dijangkau dompet karyawan rendahan yang juga adalah anak kos kayak saya.

Pertama konsul sekitar bulan April-Mei 2011, saya nggak ketemu saya si dokternya. Saya malah diarahkan ke dokter spkk rekanannya. Dokternya cantik banget, kulitnya mulus, bikin saya mupeng dan percaya kalo berobat di sini bisa bikin kulit saya kayak dia. hahahaha. Saya dijelaskan bahwa penyebab jerawat seringkali adalah pola hidup yang kurang sehat. Makanan yang tidak sehat, pola tidur yang berantakan, stress dan kurangnya menjaga kebersihan diri. Duh, nyindir banget nih! Secara saya waktu itu makan gak teratur. Seringnya junk food dan suka telat-telat. Belum lagi rajin begadang dan stres mikirin tugas kuliah sambil tetep mempertahankan performa di kantor. Kacau balau deh. Akhirnya si dokter meresepkan facial wash, krim pagi dan malam, serta sunblock. Saya juga diminta kembali konsul sebulan kemudian.

Selama sebulan pakai produk-produk itu, jujur saya takut tapi masih penuh harap. Di awal pemakaian, saya nggak mikir yang aneh-aneh. Kulit memang kemerahan, kadang kulit-kulit mati menempel di wajah. Saya jadi harus pakai masker karena rasanya kok menjijikkan aja kalo orang liat kulit-kulit mati itu gelantungan di muka saya. Tapi saya masih positive thinking, “ini adalah proses, nanti pasti membaik.”

Kedua kali konsul, saya bertemu dokter yang sama. Katanya progresnya bagus. Tidak ada reaksi negatif yang berlebihan. Dia meresepkan produk yang sama. Dan saya juga tidak usah konsul lagi kecuali jika muncul reaksi kulit terasa terbakar/gatal-gatal parah. Jadi saya meneruskan pemakaian produk-produk itu. Dan benar saja, di bulan ketiga kulit saya kinclong! Kemudian saya ganjen…

Saya mulai bosan dengan rutinitas pemakaian skincare dari dokter. Saya mau pakai bedak ini itu, mau lepas dari krim malam yang baunya gak enak, dan ngiler tiap baca review skincare ini itu. Saya jadi nggak disiplin dan benar aja, jerawat itu balik lagi. Kali ini lebih parah. Muka kinclong saya hanya berumur 5 bulan.

bersambung….

Advertisements

14 Oktober 2016

Setahun lalu, saya belajar bahwa sesuatu yang hari ini terasa amat penting boleh jadi akan menjadi hal terakhir yang kita pikirkan saat esok tiba.

Tanggal 14 Oktober tadinya hanyalah  satu tanggal dari 365 atau 366 hari dalam satu tahun. Tidak pernah lebih penting dari itu. Namun pada tahun 2003, seseorang yang waktu itu berarti bagi saya mengucapkan selamat dan menghujani saya dengan doa-doa yang indah. Sejak saat itu 14 Oktober menjadi sebuah tanggal paling penting dalam setahun. Melebihi apapun.

Tahun demi tahun berlalu. Orang itu telah kehilangan tempatnya di hati dan pikiran saya. Banyak teman datang dan pergi, sebagian menjadi sangat berarti dan sebagian lagi sekedar mampir mengisi hari. Tapi tanggal 14 Oktober tetaplah menjadi hari paling istimewa bagi saya. Saya selalu bahagia di hari itu. Ucapan berbalut doa, kado idaman yang terkabulkan, bahkan kue lezat yang mengejutkan sering saya terima pada hari itu. Hari itu membuat saya merasa jadi manusia paling dicinta semesta. Tak peduli kesedihan atau kemalangan yang saya alami setahun sisanya.

Hingga akhirnya tibalah tahun 2016. Tanggal 1 Oktober Niskala lahir dalam usia kandungan 35 minggu. Ia prematur. Dan Oktober itu langit Bandung hampir tak pernah cerah. Hujan dan mendung datang silih berganti. Kegagapan saya dalam mengurus bayi membuat saya cenderung stres dan mudah depresi. Apalagi setelah sepuluh hari saya melihat anak saya kuning.

Saya tahu ia tidak terlalu baik-baik saja. Saya harus membawanya ke dokter. Tapi suami saya sedang disibukkan dengan UAS dan harus bolak-balik Jakarta-Bandung.

“Dia baik-baik aja, kok,” katanya waktu itu. Jadi saya hanya mencoba merawat Niskala di rumah. Saya menyusuinya kapan pun ia mau. Saya keukeuh menggendongnya hampir setiap saat tak peduli orang-orang mengancam saya dengan bahaya ‘bau tangan’. Oh, I really didn’t care about that, people.

Tapi lama-kelamaan saya merasa tubuh Niskala menjadi sangat kuning. Bilirubinnya pasti tinggi. Sambil bercucuran air matanya, saya meminta kepada suami saya agar anak saya dicek darah. Akhirnya ia setuju, walau tidak bisa ditemani. Benar saja, Niskala positif jaundice dan harus terapi. Waktunya rasanya saya dada saya sesak. Oh saya tahu mungkin bagi orang lain jaundice ini biasa saja, tapi waktu itu saya tidak peduli. Saya cuma mau Niskala sehat segera. Titik.

Beruntunglah kami punya Ambu. Hal terbaik yang paling saya syukuri dari pernikahan saya. Ia adalah mertua teladan. Sejuta penjelasan akan keluar dari mulut saya hanya untuk membuktikan itu. Jadi saya dan Ambu membawa Niskala ke rumah sakit. Saya menyusui Niskala di IGD sementara Ambu mencari inkubator, mengecek ketersediaan ruang inap, sampai mengurus segala administrasi hingga akhirnya Niskala bisa mulai terapi. I wish Allah grant her jannah. Aamiiiin.

Dalam keheningan rumah sakit, petir yang bersahutan terdengar seperti berasal dari belahan bumi yang lain. Saya menatap inkubator, mengeluarkan makhluk suci di dalamnya setiap dua jam untuk menyusuinya, memeluknya, mencari kekuatan dari kehangatan tubuhnya. Lalu selepas maghrib suami saya tiba dari Jakarta.

“Selamat ulang tahun,” bisiknya.

Sejak 14 Oktober yang itu, tanggalnya menjadi biasa saja. Ia sekedar penanda bahwa saya menua, tanggung jawab semakin besar dan waktu semakin sedikit. 

Niskala dan Clodi

Sebelum Niskala lahir yaitu hampir setahun yang lalu, saya pernah browsing soal popok bayi. Dan nyangkut ke posting blog seorang ibu yang menjelaskan tentang clodi (cloth diapers). Saat itu saya sudah tertarik tapi belum berencana menggunakannya untuk Niskala.

Hingga akhirnya dia lahir. Saya memakaikan popok tali konvensional kepada Niskala. Dan untuk mencegah pipisnya bercucuran kemana-mana, saya dan suami berinovasi (preeett) dengan melapisi kain pernel yang dilipat menjadi seukuran kertas A4 dengan selembar plastik tebal dan menjadikannya semacam perlak mini. Jadi tiap menggendong Niskala, si perlak mini ini ngikut.

Tapi sehubungan dengan semakin tingginya mobilitas bayi itu yang dibarengi dengan pertumbuhan tubuhnya, si perlak mini jejadian tak lagi optimal. Di usia 2-3 bulan Niskala, saya harus ‘mandi’ tiap waktu sholat karena kena ompol terus. Sehingga akhirnya kami beralih menggunakan pospak (popok sekali pakai).

Selama 2 bulan full memakai pospak, ternyata saya jatuh miskin! Hehehehe, nggak sih. Cuma syok aja sama besarnya alokasi dana untuk membeli pospak ini. Saat itulah saya inget lagi sama si clodi. Saya browsing sana-sini, kepoin akun IG para penjual clodi hingga ‘dipertemukan’ dengan IG mbak @imeldaclodishop yang luar biasa detail dan baik hati kasih ilmu soal clodi. Gak cuma manfaat dan macem-macem clodi, sampe cara pakai, cara cuci dan cara merawat clodi pun dijelaskan di sana.

Jadilah sejak usia 4 bulan, Niskala mulai pakai clodi. Nggak langsung full pakai sih, masih suka diseling pakai pospak jg. Tapi itu aja udah bantu banget ngurangi anggaran beli pospak. Dan itu yg paling penting bagi ibu-ibu hemat (bukan pelit ya) macem saya.

Selama pakai pun alhamdulillah keluhan seperti bocor sampe ruam popok ga pernah dialami. Eh pernah sih bocor tapi itu karena sayanya yang ga ikutin petunjuk cara pakai. Jadi kalo kita ikut aturan dan petunjuknya rasa-rasanya mudah aja berclodi. Asalkan kita punya akses ke air bersih yang melimpah supaya clodi awet dan bisa berfungsi optimal.

Punya clodi jg ga harus sekodi. Niskala baru punya 4 outer, 8 insert (berbagai jenis) dan 3 liner. Sehingga ibu nuri ga boleh males nyuci clodi. Well semoga kami istiqomah berclodi. Karena, bukan cuma karena hemat tapi dengan mengurangi pemakaiannya pospak, kita juga ikut mengurangi jumlah sampah yang kian menggunung menyakiti bumi. And using cloth diapers is the least I can do. 😔

Upside-down Banana Cake

Assalamu’alaikum!

Setelah sebulan penuh mudik ke Bandung, rasanya rindu banget deh saya sama oven tercinta di rumah. Kebetulan banget pas sampai rumah ternyata Ada kiriman pisang yang dipanen Kakek dari kebunnya. Karena pisang ya cukup banyak dan sudah matang semua, saya khawatir mereka keburu busuk tanpa sempat kami makan semuanya. Secara saya gak begitu suka pisang.

Jadi, akhirnya saya memutuskan agar pisangnya dibikin cake aja. Suami yang ngocok, buat adonan dan manggang ke oven. Saya bagian mandorin aja. Hehehehe. Ini resepnya:

Bahan-bahan:

  • 4 buah pisang raja matang
  • 2 cup tepung terigu
  • 3 butir telur ayam
  • 1 1/2 cup gula pasir
  • 2 sdm butter
  • 1 sdt bubuk kayu manis

Cara buat:

  1. Lumat-lumat 3 buah pisang raja, beri bubuk kayu manis. 
  2. Di wadah terpisah, kocok telur dengan 1/2 cup gula pasir. Lalu tuangkan ke wadah berisi pisang yang telah dilumat.
  3. Masukkan tepung terigu, aduk rata.
  4. Di dalam panci kecil, panaskan butter hingga meleleh. Masukkan sisa gula pasir. Masak di api kecil hingga berubah menjadi karamel.
  5. Potong-potong 1 buah pisang membentuk bulat.
  6. Tuangkan karamel ke dalam loyang. Susun potongan pisang di atasnya. Kemudian tuangkan adonan.
  7. Panggang pada oven bersuhu 180°C selama 40-50 menit.
  8. Angkat, balikkan loyang di atas piring saji. Sajikan hangat. Ntap!

Puding Roti Panggang (Bake Bread Pudding)

Assalamu’alaikum!

Berhubung lagi liburan di Bandung, saya jadi agak kesulitan mau ngebaking. Pertama, karena belum apal tempat belanja bahan. Kedua, karena belum apal ‘settingan’ peralatan baking punya ambu. Dan terakhir, karena males. Hehehehe. Hawa dingin bikin pengennya gegoleran doang sih.

Tapi karena kegatelan juga ya udah lama ga ngebaking jadi mulai lah saya dan suami beli bahan-bahan yang gampang buat dibikin jadi cemilan. Sehingga jadilah puding roti panggang! Ini resepnya yes.

Bahan-bahan:

  • 10 lembar roti tawar kupas
  • 250 ml susu cair
  • 2 sdm gula pasir
  • 1 butir telur
  • 1 cangkir mentega, cairkan
  • 1/4 sdt vanilla extract
  • 75 gr keju cheddar, potong dadu kecil
  • 25 gr keju cheddar, parut
  • 1 bks milk chocolate meisesmilk

Cara buat:

  1. Potong-potong roti tawar ukuran 2 x 2 cm, rendam dengan 150 ml susu cair
  2. Kocok telur, campurkan dengan gula pasir dan vanilla extract.
  3. Setelah kocokan telur merata, tambahkan sisa susu.
  4. Masukkan mentega cair ke dalam campuran telur dan susu, aduk rata.
  5. Tuangkan campuran telur susu dan mentega ke dalam wadah rencananya roti tawar.
  6. Tambahkan potongan keju, lalu aduk rata.
  7. Siapkan loyang yang telah dioles mentega beku.
  8. Masukkan setengah adonan ke dalam loyang.
  9. Beri taburan meises yang cukup tebal di tengah adonan.
  10. Tuangkan sisa adonan, beri taburan keju.
  11. Panggang ke dalam oven dengan suhu 180° selama 30 menit.
  12. Sajikan.

Strawberry Cheesecake

​Assalamu’alaikum!

Tanpa banyak cincong, inilah resep cake favorit saya.

Bahan-bahan:

a. Saus stroberi

. 100 gr stroberi segar

. 1/2 cup air

. 1 sdt tepung maizena

. 1 sdm gula pasir

b. Crust

. 6 keping biskuit marie

. 50 gr unsalted butter, lelehkan

c. Cheesecake filling 

. 200 gr cream cheese bersuhu ruangan

. 1 butir telur

. 2 sdm gula pasir

. 1/4 sdt vanilla extract 

. 1 sdm perasan jeruk nipis

. 1/2 sdt parutan kulit jeruk nipis

. 1 sdm tepung terigu 
Cara buat:

a. Saus stroberi 

. Potong stroberi seukuran dadu.

. Masukkan potongan stroberi dan gula ke dalam sauce pan di atas api kecil 

. Beri air sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga gula larut 

. Setelah gula larut, tunggu hingga mendidih dan air menyusut setengahnya

. Masukkan tepung maizena yang sebelumnya dilarutkan dengan sedikit air (kira-kira 1/4 cup)

. Aduk pelan-pelan hingga cukup kental

. Matikan api, diamkan hingga saus bersuhu ruangan

. Dinginkan di dalam kulkas 

b. Crust 

. Masukkan biskuit marie ke dalam kantong plastik 

. Hancurkan biskuit dengan rolling pin

. Pindahkan remahan biskuit ke mangkok berisi lelehan butter

. Aduk hingga rata, masukkan ke dalam springfoam 

. Ratakan crust di dasar springfoam hingga seluruh dasar tertutup

. Masukkan ke dalam oven selama 10 menit

. Setelah 10 menit, keluarkan dari oven dan diamkan di suhu ruangan

. Turunkan suhu oven ke 160

c. Filling 

. Aduk cream cheese menggunakan mixer kecepatan rendah-sedang hingga halus 

. Tambahkan gula sambil terus diaduk 

. Setelah gula tercampur, masukkan satu per satu vanilla extract, perasan jeruk nipis dan kulit jeruk nipis 

. Tambahkan terigu, aduk hingga adonan lembut

. Masukkan telur, aduk pelan hingga tercampur

. Matikan mixer, jangan overmix setelah telur masuk

d. Tahap akhir

. Alasi bagian luar springfoam berisi crust dengan aluminium foil hingga ke sekelilingnya

. Masukkan filling, ratakan dengan spatula

. Optional: tambahkan saus stroberi di atas filling, lalu bentuk swirl

. Tuang air ke loyang oven hingga setengahnya tergenang

. Masukkan springfoam berisi adonan cheesecake 

. Panggang hingga 45-50 menit

. Setelah 45 menit, cek adonan apakah masih bergerak atau sudah settle 

. Jika sudah settle, matikan oven.

. Diamkan cheesecake di dalam oven selama 1 jam

. Keluarkan cheesecake dan dinginkan di suhu ruangan 

. Setelah bersuhu ruangan, dinginkan di kulkas selama 6 jam atau semalaman

. Sajikan dengan siraman saus stroberi

Cat: untuk springfoam ukuran 10cm

Classic Tiramisu (without mascarpone)

Assalamu’alaikum!

Dengan selesainya tetek bengek revisi skripsi suami saya, alhamdulillah kami bertiga sudah ada di Bandung sejak tanggal 14 kemarin. Tapi sampai dengan hari sabtu pagi saya masih punya cream cheese di kulkas. Karena saya akan cukup lama di bandung, tentunya sayang banget kan kalau cream cheese yang enak itu harus terbengkalai begitu saja. Nah kebetulan, beberapa hari sebelumnya saya lagi suka banget liat video resep buat bikin tiramisu. Padahal saya nggak suka kopi dan cuma suka milk chocolate. Tapi nyatanya saya tergoda buat bikin tiramisu.

Untuk buat Tiramisu, lazimnya kita pakai keju mascarpone. Tapi berhubung punyanya cream cheese, ya sudahlah saya sikat aja.

Bahan-bahan:

  • 250 gr keju mascarpone (saya ganti cream cheese)
  • 20-25 keping biskuit digestive (biasanya orang pakai ladyfinger, saya pakai biskuat susu karena adanya itu, hehehe)
  • 3 butir telur, pisahkan kuning dan putihnya
  • 3 sdm gula pasir
  • 3 sdm bubuk cokelat
  • 2 sdm bubuk kopi hitam, seduh dengan secangkir air panas
  • 1 sdt vanila

Cara membuat:

  1. Di atas wadah double boiler, kocok perlahan kuning telur dan 2 sdm gula pasir.
  2. Setelah kuning telur berubah berbusa dan berwarna lebih pucat dengan suhu di wadah mencapai 70 derajat celcius, matikan api lalu sisihkan.
  3. Di wadah lain, kocok putih telur dan 1 sdm gula pasir hingga kaku.
  4. Di wadah kuning telur yang sudah tidak panas, masukkan cream cheese dan vanilla. Kocok adonan.
  5. Setelah adonan lembut, masukkan sepertiga bagian dari kocokan putih telur. Aduk hingga tercampur rata.
  6. Jika sudah tercampur, masukkan sisa kocokan putih telur dan aduk kembali.
  7. Siapkan loyang, masukkan 1-2 sdm adonan dan ratakan dengan spatula.
  8. Celupkan biskuit ke dalam seduhan kopi, lalu susun menutupi permukaan loyang.
  9. Setelah permukaan loyang tertutup, ambil setengah bagian dari adonan dan lapisi susunan biskuit. Ratakan dengan spatula.
  10. Menggunakan saringan teh, taburi dengan cokelat bubuk.
  11. Buat layer kedua biskuit dengan menyelupkannya ke seduhan kopi dan menyusunnya.
  12. Masukkan sisa adonan dan kembali ratakan dengan spatula.
  13. Taburi kembali cokelat bubuk hingga merata.
  14. Masukkan loyang ke dalam lemari es. Dinginkan selama minimal 6 jam.
  15. Selesai.